ESTETIKA MINANGKABAU DALAM GERAK TARI BUJANG SAMBILAN

Efrida Efrida

Abstract


Seni tari adalah ungkapan nilai. Sesuatu dikatakan bernilai karena berguna dalam kehidupan.Seni tari selalu menarik untuk dibicarakan bukan hanya keindahannya, melainkan karena hubungannya dengan kehidupan masyarakat tempat seni itu ada. Tari Bujang Sambilandi Minangkabau merupakan sarana untuk menghibur. Cerita yang disampaikan lebih mengarah pada cerita yang dimunculkan kemudian. Tari Bujang Sambilan merupakan pengembangan dari tari mancak yang dikenal masyarakat Minangkabau yang dikembangkan dari gerak silat Gunuang atau silat Tuo. Tari Bujang Sambilan memakai penari selalu genap dan dalam pengembangannya bisa berjumlah empat atau enam orang penari.


Keywords


Bujang Sambilan; Tari Mancak; Silat

Full Text:

PDF

References


Bastomi, Suwaji. 1992. Wawasan Seni. Semarang: IKIP Semarang

Press.

Cassirer, Ernst. 1987. Manusia dan Kebudayaan: sebuah Esai

tentang Manusia. Trj. Alois A. Nugroho. Seri Filsafat Atma Jaya; 6. Jakarta: Gramedia.

Djelantik, A.A.M. 1999. Estetika: Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Gie, The Liang. 1996. Filsafat Seni: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna.

Holt, Claire. 2000. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Terj. Prof. Dr. R.M. Soedarsono. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan

Indonesia. Hospers, John 1969. Introductory Readings in Aesthetics. New

York: The Free Press.

Rai S., I Wayan. 2001. “Rwa Bineda dalam Berkesenian Bali”. Jurnal Seni Budaya Mudra No. 11 Th. IX Agustus 2001. Denpasar: STSI.

Sumardjo. Jakob. 2000. Filsafat Seni. Bandung: ITB.




DOI: http://dx.doi.org/10.26887/ekse.v18i1.84

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Alamat Redaksi:

LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Jl. Bahder Johan 27128, Sumatera Barat (0752) 82077

Email: red.ekspresiseni@gmail.com 

 


This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


View My Stats