MUSIK TARI KURENAH UWAIK UWAIK

Asri MK

Abstract


Paket Musik Tari Kurenah Uwaik-uwaik fungsional sebagai peringatan dan bahan
renungan jika diusia senja terkadang tingkah laku dan pola hidup kembali seperti anak-anak, minta diperhatikan, dimanja dan terkadang sangat sensitif. Musik tari Kurenah Uwaik Uwaik terinspirasi dari tingkah laku nenek-nenek dalam kesibukan sehari-hari yang penuh dengan keunikan dan kelucuan yang
menggelitik lagi mengasyikkan. Istilah Uwaik-uwaik berasal dari sebutan untuk
para ibu-ibu lanjut usia (lansia) di sekitar Danau Maninjau. Eksistensi kehidupan
sosial para Uwaik-uwaik ini cukup dinamis yang menyimbolkan sifat “tua-tua
keladi-makin tua makin menjadi” dan gambaran itulah yang sering terjadi di
kehidupan lansia. Hasil karya Musik Iringan dari Tari Kurenah Uwaik-uwaik
merefleksikan memori terhadap dunia nenek-nenek yang termasuk fenomenal di
mata para cucunya yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran.

 

The Kurenah Uwaik-uwaik dance and music package are functionally as a
warning and reflection material, when human are aged, the behavior and life
patterns are quite same as children. They ask for attention, they are spoiled, and sometimes very sensitive. Kurenah Uwaik Uwaik's dance and music is inspired by grandmother's behavior in daily routines, which is full of uniqueness and humor that intriguing and exciting. Uwaik-uwaik is a term that comes and used for elderly mothers (grandmother) around Lake Maninjau. The existence of the Uwaik-uwaik social life is quite dynamic which symbolizes the nature of this
phrase "tua-tua keladi-makin tua makin menjadi" and it is often happens in the
lives of the elders. The work of Kurenah Uwaik-uwaik dance and music, reflects
the memory about the world of grandmothers, which is phenomenal in the eyes of their grandchildren who must faced them with patience.


Keywords


Uwaik-uwaik; musik; refleksi; fenomenal; Music; Reflection; Phenomenal;

Full Text:

PDF

References


Dieter Mack. 2004. “Musik Kontemporer dan Persoalan Interkultural”. ARTI.

Doris Humphrey, Seni Menata Tari, Terj. Sal Murgianto. Jakarta: Dewan Kesenian, 1993.

I Wayan Senen. Pengetahuan Musik Tari. Jakarta, 1983.

Nedi Winuza dan Elizar. “Bingkai”, Laporan Karya, Padangpanjang: ASKI, 1994.

Rahayu Supanggah. “Bothekan Karawitan II”: “Garap”, Surakarta: ISI Press, 2009.

Sal Murgianto. Tradisi dan Inovasi. Wedatama Widya Sastra: Jakarta, 2004.

Suka Hardjana. “Corat-Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini”, Jakarta: Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia,

Sumaryo L.E. Komponis Pemain Musik dan Publik. Jakarta, 1978.

Waridi. “Gagasan dan Kekaryaan Tiga Empu Karawitan”, Etnoteater Publisher dengan BACC kota Bandung dan Pasca Sarjana ISI Surakarta, 2008


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.

Nomor ISSN:1907-4859 (media cetak)