ETIKA DAN ESTETIKA PERTUNJUKAN MUSIK TRADISIONAL BIOLA DI KABUPATEN PESISIR SELATAN

Darmansyah Darmansyah

Abstract


Biola adalah sejenis alat musik tradisional yang secara umum dikenal dengan
istilah rabab di Sumatera Barat. Dalam pertunjukannya dikenal dengan istilah
barabab, namun di Kabupaten Pesisir Selkatan pertunjukannya dikenal dengan
babiola. Materi utama dalam pertunjukan adalah penyampaian teks kaba (cerita). Salah satu repertoar lagunya yang terkenal berjudul Ratok Sikambang. Ratok Sikambang diyakini sebagai lagu tradisional tertua di daerah Pesisir Selatan yang memiliki karakteristik melodi dan teks berupa imitasi bentuk isak tangis ratapan sebagai representasi suasana sedih kebatinan yang dialami tokoh legenda Sikambang. Legenda ini terwujud pula dalam bentuk tari yang diberi nama tari Sikambang. Pertunjukan biola ini memiliki etika dan estetika yang yang sampai saat sekarang tetap dipedomani dan menjadi identitas masyarakatnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatafi dengan pendekatan organologis dan karakteristik musik yang didukung oleh teknik observasi dan wawancara terhadap pemusik biola (Tukang Biola) yang profesional.

 

Violin is a type of traditional musical instrument which is generally known as rabab in West Sumatra. In it's performances generally it is known as barabab, but in the Pesisir Selatan District the performances is known as babiola. The main material in the performances is the delivery of the kaba text (story). One of it's famous song repertoires is Ratok Sikambang. Ratok Sikambang is believed to be the oldest traditional song in the Pesisir Selatan area that has melodic characteristics and text in the form of imitation consisting lamentable sobs as a representation of the sad atmosphere that experienced by the characters in Sikambang legend. This legend was also manifested in the form of a dance, that called Sikambang dance. This violin performances has ethics and aesthetics which up to now are still guided and become the identity of its people. This research are using qualitative research with an organological approach and musical characteristics, also supported by observation and interview techniques to a professional violin (Tukang Biola) musicians.


Keywords


biola; karakteristik; figur; etika; estetika; violin; characteristics; figure; ethics; aesthetic;

Full Text:

PDF

References


Batang Kapas dalam Angka. BPS. Pesisir Selatan 2010.

Blomer dalam Suwardi Endraswara, 2003. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hari Poerwanto, 2000. Kebudayaan dan Lingkungan. Pustaka Jaya Offset.

Idrus Hakimi Dt. Rajo Penghulu, 1991. Pengetahuan Adat Alam Minangkabau. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

M. Thaib gl ST Pamoentjak. 1935. Kammoes Bahasa Minangkabau, Bahasa Melajoe-Riau. Batavia: Departement Van Ondervijs Eeredienst.

Mardjani Martamin, 1989. “Karakter Musik Vokal Dendang Minangkabau.” Laporan Penelitian. Padangpanjang: ASKI Padangpanjang.

Mudji Sutrisno S.J, 1994. Estetika Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Kanisius.

Nasution, dalam Sugiyono.2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Suzanne K. Langer, 1988. Problematika Seni alih bahasa FX. Widaryanto. Bandung.

Suwardi Endraswara, 2006. Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistemologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Widyatama. Pustaka

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.

Nomor ISSN:1907-4859 (media cetak)