DIKIU DAN MAARAK BUNGO LAMANG KANAGARIAN LUAK KAPAU KAB. SOLOK SELATAN

Dwi Afifah Syafeni, Misda Elina, Jonni Jonni

Abstract


Dikiu adalah salah satu kesenian tradisional yang ditampilkan setelah melakukan prosesi maarak bungo lamang. Kegiatan dikiu yang dilakukan pada hari peringatan Maulid Nabi SAW dilaksanakan pada malam hari di dalam masjid. Masyarakat setempat menyebut dengan “malam 12”. Kesenian ini dimainkan oleh sepuluh sampai lima belas orang. Kegiatan dikiu tidak hanya sebatas tontonan, melainkan juga menjadi acara penting yang tidak bisa ditinggalkan dalam masyarakat Ujung Jalan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses prosesi maarak bungo lamang dan bagaimana bentuk, struktur pertunjukan kesenian dikiu. Hasil penelitian menunjukan bahwa, kesenian dikiu ditampilkan dengan membaca kitab syaraful anam. Dengan struktur penyajian 1) membaca al-fatihah.  2) membaca shalawat nabi. 3) membaca bagadat. 4) membaca pasal.

Keywords


dikiu; kesenian tradisi; maarak bungo lamang

Full Text:

PDF

References


Agus cahyo, 2006, “Seni Pertunjukan Arak Arakan dalam Upacara Tradisional Dugheran di Kota Semarang “, Jurnal. DalamHarmonia Volume VII No. 3. September-desember,:sendratasik UNNES Semarang

Boni Monica, 2013, “Kesenian Berdikir Dalam Pesta Perkawinan Di Kelurahan Panorama Kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu, ISI Padangpanjang

Chyntia Febriana, 2012, “Fungsi Gandang Tambue Dalam Upacara Maulud Nabi Di Nagarai Sicincin Kecamatan 2X11 Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman, ISI Padang panjang.

Djelantik, A.M.M. 2004.Estetika Sebuah Pengantar. Bandung : Masyarakat Kesenian Indonesia.

Ediwar, S.sn., M.Hum, 2002, “Seni Pertunjukan Indonesia (Gendre Seni Pertunjukan Melayu Minangkabau)”, Padangpanjang

Etta Mamang Sabgadji dan Sopiag, 2010, “Metodologi Penelitian Pendekatan Praktis dalam Penelitian”, Yogyakarta

Fadhilah Albert, 2011, “ Pertunjukan Dikia Rabano Dalma Konteks Upacara Perkawinan Dalam Masyarakat Lasi Tuo Kenagarian Lasi Kecamatan Canduang Kabupaten Agam, ISI Padangpanjang

Habibah, 2015, ”Barabano Dalam Konteks Khatam Al-Quran di Jorong Lasi Mudo Kanagarian Lasi Kecamatan Canduang Kabupaten Agam, ISI Padangpanjang

Ihromi, 2006,”Pokok-Pokok Antropologi Budaya”.YayasanObor Indonesia,

Jakarta

KamusBahasa Indonesia Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Balai Pustaka : Jakarta 2016

Koentjaraningrat, 2005, “Pengantar Antropologi Pokok-Pokok Etnografika”, Rineka Cipta

Lazuardi, 2005, Ratik Saman Sebagai Musik Zikir Islam Minangkabau, Jogjakarta

Lexy J. Meleong, 2000, “Metode Penelitian Kualitatif”. Bandung, Remaja Rodasakarya.

Mulyadi, 2013, “ Perkembangan Kesenian Dikia Rabano di Nagari Taruang-Taruang Kecamatan IX koto sungai lasi Kabupaten Solok. ISI Padangpanjang

Peter Salim, YeniSalim, 1991, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer,

Modren English Press, Jakarta

Prof. Dr. R. M. Soedarsono, 2002, “Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi”, Yogyakarta : Gajah Madah University

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahas , 1995. Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia. Jakarta :Balai Pustaka

W.J.S Poerwadarminta, 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka : Jakarta

http://proMutu.pengertianmauluidnabi.com

https://www.pecintaulama.id/2017/




DOI: http://dx.doi.org/10.26887/lg.v4i2.489

DOI (PDF): http://dx.doi.org/10.26887/lg.v4i2.489.g317

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.