PENCIPTAAN TARI GARAK NAGARI PEREMPUAN SEBAGAI CONTOH STRATEGI PENGEMBANGAN SENI PERTUNJUKAN UNTUK INDUSTRI KREATIF

EMRI EMRI

Abstract


ABSTRACT

 

The creation of Garak Nagari Perempuan Dance is basically an effort to revive baKaba tradition that nowadays has lack of existence in Minangkabau people’s life. The choice of reviving baKaba tradition is based on the consideration that this tradition is truly an effective media to transmit and spread various positive values that are useful in Minangkabau people own life. It’s not only in the past, that potential is believed to be able to be used in the present day, to face today’s life.

Generally, performing arts (including dance) is indeed difficult to enter the creative industry because it cannot be produced en masse in the same time except involving recording industry and then it’s distributed in the society. This thing is also at risk toward the establishment of a performance that can no longer be developed. Dance in the creative industry is the embodiment of dance communication with its society. The dance that can directly enter the creative industry is the dance considered established such as what has been previously done. This results on an assumption that that dance is no longer developing. It is only as the basis of doing the new creativity.

 

Keywords: dance, creative industry, strategy

 

 

ABSTRAK

 

Penciptaan karya tari Garak Nagari Perempuan pada dasarnya merupakan upaya untuk menghidupkan kembali tradisi baKaba yang dewasa ini kurang eksis dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Pilihan untuk menghidupkan kembali tradisi baKaba didasarkan atas pertimbangan, bahwa tradisi ini sesungguhnya merupakan media yang efektif untuk menularkan dan menyebarkan berbagai nilai positif yang dapat berguna dalam kehidupan masyarakat Minangkabau itu sendiri. Tidak  saja  di masa  lalu,  potensi  tersebut  diyakini  dapat  digunakan di masa sekarang, untuk menghadapi peri-kehidupan masakini.

Seni pertunjukan secara umum (termasuk tari) memang hal yang sulit untuk memasuki industri kreatif karena ia tidak bisa di produksi secara masal dalam waktu yang sama, kecuali melibatkan industri perekaman dan kemudian dipasarkan di tengah masyarakat. Hal ini juga beresiko terhadap kemapanan sebuah pertunjukan yang tidak bisa lagi dikembangkan.

Seni tari dalam industri kreatif merupakan perwujudan dari komunkasi seni tari dengan masyarakatnya. Seni tari yang bisa langsung masuk pada industri kreatif adalah seni tari yang dianggap mapan seperti yang pernah dilakukan. Hal ini menyebabkan seni tari tersebut dianggap tidak lagi berkembang. Ia hanya sebagai basic untuk melakukan kreativitas baru.


Keywords


tari, industri kreatif, strategi

Full Text:

PDF

References


DAFTAR PUSTAKA

Esten, Mursal. (ed.). (1989). Menuju Kri-tik Sastra yang Relevan. Angkasa: Padang

Hauser, Arnold. (1974). The Sosiology of Art. Chicago and London: The University of Chicago Press.

Junus, Umar, (1984), Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau: Suatu Pro-blema Sosiologi Sastra, Jakarta: PN. Balai Pustaka.

Peursen, C.A. van. (1992). Strategi Kebu-dayaan. Cetakan ke-2. Trj. Dick Hartoko. Yogyakarta: Kanisius.

Soedarso. (1998-2001). “Kreativitas Seni Pertunjukan Indonesia”. Seminar Internasional Seni Pertunjukan In-donesia 24-25 Juli 2001. Sura-karta: STSI.

Wolff, Janet, (1981). The Social Pro-duction of Art, New York: St. Martin‟s Press.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.