BATOMBE: TRADISI BERBALAS PANTUN DI KANAGARIAN ABAI SOLOK SELATAN

Ipraganis Ipraganis

Abstract


Batombe adalah tradisi lisan masyarakat Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batanghari, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatra Barat. Batombe adalah tradisi berbalas pantun yang dilakukan sebagai hiburan pada pesta pernikahan (baralek). Batombe identik dengan rumah gadang Nagari Abai yang unik, yakni rumah adat dengan ruangan yang sangat panjang hingga 21 ruangan. Pantun-pantun batombe cenderung menyampaikan perasaan yang mendayu-dayu sehingga para pedendangnya sering hanyut ke dalam suasana pertunjukan. Oleh sebab itu, sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, seringkali batombe menyebabkan efek negatif bagi (kejiwaan) para pedendangnya. Tulisan ini mendeskripsikan berbagai hal, seperti penutur batombe, waktu untuk melakukan batombe, hubungan batombe dengan rumah gadang di Nagari Abai, dan efek negatif yang ditimbulkan batombe bagi pedendangnya. Tulisan ini bertolak dari kenyataan bahwa pada tradisi lisan terdapat hubungan erat, antara lain seperti teks dengan penutur dan teks dengan konteks (tempat, waktu, dan suasana). Pendekatan multidisipliner digunakan pada tulisan ini, yakni pendekatan historis, sosiologis, antropologis, dan psikologis. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif.

 

“Batombe” is an oral tradition of the Nagari Abai society at Sangir Batanghari Subdistrict, South Solok District, West Sumatra Province. Batombe is exchanging rhymes (berbalas pantun) which is performed as an entertainment on the wedding party (baralek). Batombe is identical with Great House (Rumah Gadang) Nagari Abai which is a unique house because it is a long traditional custom house that has many rooms. It reaches 21 rooms. The rhymes in batombe tends to deliver a feeling of lilting so the singers often drift into the atmosphere of the show. Therefore, as part of community life, batombe often cause a negative effects for the singers soul. This paper describes various things, such as: who batombe singer is; the time to perform this activity; the relationship between batombe and Great House (Rumah Gadang) at Nagari Abai; and the negative effects caused by batombe for the singers. This paper based on the fact that in oral tradition there is a close relationship between text and the speakers and text with context (place, time and atmosphere), a multidisciplinary approach is used in this paper, such as historical, sociological, anthropological, and psychological approach. The method used is descriptive analysis method.

 


Keywords


batombe, berbalas pantun, , exchanging rhymes, the singers, the great house (rumah gadang) with 21 rooms, the negative effects.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.

Nomor ISSN:1907-4859 (media cetak)