MUSIK SAKO SENG DAN AKULTURASI: FENOMENA KEBUDAYAAN DITINJAU DARI SEGI DAMPAKNYA PADA MASYARAKAT WATUBLAPI FLORES NTT

Katharina Kojaing

Abstract


Sako Seng adalah kegiatan mencangkul ladang pertanian secara gotong-royong dengan sistim Gilis (bergilir), yang dilakukan dengan cara mengangkat cangkul dan memaculkan ke tanah secara serentak dalam satu irama, diirngi musik tradisional Korak (Tempurung Kelapa) dan Reng (Giring-giring). Instrumen musik tersebut berfungsi sebagai pengiring sekaligus memotivasi semangat dalam aktivitas mencangkul. Budaya Sako Seng terdapat di kampung Watublapi Kabupaten Sikka pulau Flores Propinsi NTT, dan merupakan rutinitas tahunan yang berlangsung dari bulan Juli hingga akhir November (musim kemarau hingga musim hujan), yang melibatkan para orang tua dan muda-mudi kampung. Untuk mengetahui dampak munculnya akulturasi terhadap atraksi musik Sako Seng dan perkembangannya hingga saat ini, maka penelitian ini dikaji dengan menggunakan pendekatan analisis deskriptif kualitatif-antropologi dan etnomusikologi dengan mengacu pada teori Perubahan Budaya, dengan metode etnografi.


Keywords


Musik Sako Seng; Dampak Akulturasi; Perkembangan

Full Text:

PDF

References


Bahari, Nooryan. 2008. Kritik Seni Wacana, Apresiasi dan Kreasi. Yogykarta: Pustaka Pelajar.

Elrais, Heppy. 2012. Kamus Ilmiah Popoler. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Depdikbud Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Penelitian dan Pencatatan

Kebudayaan Daerah. 1978. Ensikopledi Musik dan Tari Daerah NTT.

Hardjana, Suka. 1983. Estetika Musik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Marianto, M Dwi. 2002. Memahami Subject Matter dan Makna dalam Kritik Seni. Yogyakarta: Lembaga Penenlitian Institut Seni Indonesia.

Merriam, Alan P. 1964. The Antropoloy of Music. Evanston: Northwestern University Press

Sugiharto, Bambang. 2013. Untuk Apa Seni. Bandung: Matahari.

Sp, Soedarso. 2006. Trilogi Seni. Yogyakarta: Badan Penerbit

ISI Yogyakarta.

Suherni. 2005. “Tari Asyik Dari Ritual Magis Ke Seni Pertunjukan Di Desa Siulak Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi”dalam Jurnal Ekspresi Seni: Kearifan dan Keunggulan, Vol. 14 Tahun 5 2005, Yogyakarta: Institut

Seni Indonesia.

Wahyudiyanto. 2005. “Etnisitas, Kreativitas, Dan Identitas Dalam Wacana Seni Budaya Di Jawa Timur”dalam Ekspresi, Seni:Kearifan dan Keungulan, Vol. 14 Tahun 5 2005, Yogyakarta: Institut Seni Indonesia,

Bakok, Yohanes. 2014. “Pengaruh Irama Musik Terhadap Peningkatan Memori Verbal Anak Tuna Rungu”. Yogyakarta: Minat Utama Seni Musik Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Carlos, Yohanes. 2010. Perubahan Furngsi Musik Gong Waning Terhadap Aspek Musikalnya.(http://www.inima umere.com/2010/03/gong- waning-sikka-sejarah- ritual.html diakses 17 Oktober 2015).

Dinas Pariwisata Dan Dinas Pemuda Dan Olah raga, 2014. Sangar Bliran Sina. http://satusikka.blogspot.co.id/ 2014/10/sako-seng.html [26

Oktober 2015]

Widodo, Setijo Dwi. 2011. Seni Dan Budaya Tenun Ikat Bagi Masyarakat Watublapi.(http://baltyra.com/2011/09/19/seni-dan-budaya- tenun-ikat-di-flores-2/. Diakses 06 Oktober 2015).

Nara Sumber:

Ibu Karolina (59 tahun), sebagai anggota penari sanggar musik Bliran Sina daerah Watublapi, ahli budaya, dan melayani wawancara lepas dalam bidang seni dan budaya daerah Watublapi dan Hewokloang.

Bapak Martinus Rufus (47 tahun), sebagai pembicara adat dan pakar budaya wilayah Watublapi dan Hewokloang




DOI: http://dx.doi.org/10.26887/ekse.v19i1.127

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Alamat Redaksi:

LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Jl. Bahder Johan 27128, Sumatera Barat (0752) 82077

Email: red.ekspresiseni@gmail.com 

 


This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


View My Stats