TRADISI MENARI DALAM UPACARA PERNIKAHAN MASYARAKAT BENGKULU SELATAN

Hartati Hartati

Abstract


Menari bersama merupakan salah satu bentuk acara dalam upacara adat pernikahan masyarakat Bengkulu Selatan. Penarinya terdiri atas bujang dan gadis, sehingga dinamai selawanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai apa yang terkandung di balik tradisi menari bersama yang seperti demikian. Untuk meneliti permasalahan utama dalam penelitian ini pada dasarnya menggunakan metode penelitian kualitatif. Alasannya adalah bahwa permasalahan yang diteliti adalah persoalan nilai, pandangan, dan sisi-sisi pengetahuan yang menjadi pegangan bersama bagi masyarakat pendukung tradisi menari bersama tersebut. Temuan penelitian adalah berupa konsep-konsep budaya masyarakat setempat yang pada hakikatnya melalui tradisi menari bersama bujang dan gadis bukan berarti gadis pasangan menari sebagai pemuas nafsu atau objek hiburan semata bagi bujang yang bersangkutan. Akan tetapi melalui tradisi ini wanita dihormati dan ditempatkan secara adat sebagai kaum hawa pendamping suami dan ibu bagi anaknya kelak. Selawanan merupakan fasilitas budaya yang menghantarkan wanita ke arah pembangunan rumah tangga bersama bujang pasangan penarinya.


Keywords


selawanan; fasilitas; rumah tangga; dihormati

Full Text:

PDF

References


Amir Piliang, Yasraf. 1998. “Masih Adakah „Aura. Wanita Di Balik „Euphoria. Media”, dalam Idi Subandy Ibrahim dan Hanif Suranto, ed., Wanita dan Media, Konstruksi Ideologi Gender dalam Ruang Publik Orde Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Firt, Raymond. 1975. Symbol, Public and Private 1. New York: Cornel University Press.

Hoesin, Kiagoes. 1993. Koempoelan Oendang-Oendang Adat Lembaga Dari Sembilan Onderafdeelingen Dalam Gewest Benkoelen. Palembang: Sriwijaya Media Utama.

Kontjaraningrat. 1989. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Kusmawati. 1999. “Tari Selawanan Dalam Upacara Adat Bimbang Pada Masyarakat Kedurang Kecamatan Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan”. Skripsi Sarjana S-1, Program Studi Seni Tari, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padangpanjang.

Macdonald, Mandy., et.al., 1999. Gender & Perubahan Organisasi, Terj.Omi Intan Naomi.Jakarta: Pustaka Pelajar.

Merriam, Alan P. 1987. The Anthropology of Music. Chicago: North Western University Press.

Radcliffe-Brown, A.R. 1965. Structure and Function in Primitive Society. New York: The Free Pres.

Risnawati. 1997. “Tari BeLawanan Dalam Masyarakat Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan”, Laporan Penelitian. Padangpanjang: Sekolah Tinggi Seni Indonesia.

Siddik, Abdullah. 1980. Hukum Adat Rejang. Jakarta: Balai Pustaka.

Sudjiman, 1992. Panuti dan Aart Van Zoest. Serba-Serbi Semiotika. Jakarta: Gramedia.

Spradley, James P., ed. 1972. Culture and Cognition. San Francisco: Chandler Publishing Company.

Skorupski, John. 1983. Symbol and Theory. Cambridge: Cambridge University Press.

Sumaryono, E. 1995. Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Widyastutienigrum, Sri Rochana. 2004. “Pertunjukan Tayub yang Berubah”, dalam Mahdi Bahar, ed., Seni Tradisi Menantang Perubahan. Padangpanjang: STSI Press.

Sani, Asrul. 1992. Cara Menilai Sebuah Film, terjemahan. Jakarta: Yayasan Citra.

Suhanji. 2009. Strategi Pembelajaran, konsep dasar, metode, dan aplikasi proses belajar mengajar. Yogyakarta: Grafindo Lentera Media.

Wibowo, Fred. 2007. Teknik Produksi Program Televisi. Yogyakarta: Pinus Book Publisher.

Wijaya, Cece dkk. 1993. Upaya




DOI: http://dx.doi.org/10.26887/ekse.v18i1.89

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Alamat Redaksi:

LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Jl. Bahder Johan 27128, Sumatera Barat (0752) 82077

Email: red.ekspresiseni@gmail.com 

 


This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


View My Stats