REVITALISASI BAJU KURUANG BASIBA MINANGKABAU

Desra Imelda

Abstract


Baju kuruang basiba adalah baju perempuan Minangkabau yang memiliki ciri-ciri khas,
pada bagian samping baju terdapat siba dengan panjangbaju sebatas lutut, leher bulat
tanpa kerah dan sedikit diberi belahan sebatas dada. Penciptaan karya revitalisasi baju
kuruang basiba inidipercantik dengan ornamen motif hias Minangkabau, berbagai model
dan warna yang tidak terikat dengan ketentuan adat karena baju ini bertujuan bukan untuk
acara-acara adat. Baju ini ditujukan untuk perempuan Minangkabau pencinta mode
sehingga keberadaan baju kuruang basiba tetap lestari di tengah kehidupan masyarakat
pendukungnya.Proses penciptaan karya dilalui dengan beberapa tahap, yaitu: pembuatan
desain, pembuatan pola, pengguntingan, pemberian ornamen, penjahitan, dan finising.
Ornamen dibuat dengan berbagai teknik, yaitu teknik jahit smock, sulam, tempel, dan
teknik bordir.


Full Text:

PDF PDF

References


Feldman, Edmund Burke. 1991. .Art as

Image and Idea,

terjemahan SP. Gustami.

Yogyakarta: FSRD ISI

Yogyakarta.

Gustami, SP.1991. ”Dampak

Modernisasi Terhadap Seni

Kriya di Indonesia”, dalam

Soedarso Sp. (Ed),

Beberapa Catatan Tentang

Perkembangan Kesenian

Kita. Yogyakarta: BP ISI

Yogyakarta.

Ibrahim, Anwar. 1986. Pakaian Adat

Tradisional Sumatera

Barat. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan

Kebudayaan.

Kamus Besar bahasa Indonesia, Edisi

ketiga. 2002. Jakarta: Balai

Pustaka.

Marah, Risman. 1987. Ragam Hias

Minangkabau. Yogyakarta:

Departemen Pendidikan

dan Kebudayaan.

Poespo, Sanny. 2004. Reka Busana

Muslim, Paduan Celana

Panjang, Jakarta:

Gramedia.

Sipahelut, Atisah dan Petrussumadi.

Dasar-dasar Desain.

Jakarta: Depdikbud,

Zuhelman. 2001.Konsep Alam

Takambang Jadi Guru

Dalam Ragam Hias

Minangkabau ( Tesis).


Refbacks

  • There are currently no refbacks.



This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

 

View My Stats