Menggali Falsafah Hidop Orang Basudara dari Melodi Bakubae (Perdamaian) - Lagu Gandong di Maluku

Dewi Tika Lestari

Abstract


Abstrak

Konflik Maluku adalah suatu kenyataan historis yang terus menjadi suatu objek studi berbagai disiplin ilmu. Banyak pendekatan keilmuan, seperti sosiologi, antropologi, teologi dan agama – yang telah mengkaji masalah konflik dan proses perdamaian di Maluku. Kajian ini menegaskan peran musik lokal Maluku sebagai salah satu media mengomunikasikan perdamaian. Dalam proses perdamaian, nyanyian lokal Maluku, sebagai bentuk musik vokal seperti lagu gandong yang mengkespresikan semangat hidop orang basudara selalu digemakan. Pesan musikalitasnya merasuk sanubari dan perasaan kultural masyarakat, sehingga turut membangkitkan kesadaran bahwa semua masyarakat Maluku adalah sesama orang basudara,  yang mesti hidup bakubae atau berdamai. Demikian karya-karya musik itu dapat disebutkan sebagai suatu melodi perdamaian (bakubae) di Maluku. Kajian ini menggunakan pendekatan analisis filsafat-seni, yang mencari nilai-nilai etis, estetika dan pandangan hidup masyarakat pemilik musik tersebut. Kajian ini menghasilkan suatu pengetahuan bahwa musik juga berkontribusi membangun perdamaian.

Abstract

The Maluku Conflict is a historical reality that always become an object of study from the various disciplines. There were many studies as like sociology, anthropology, theology and religion that did research about conflict and peace building in Maluku. This research impress about local music of Maluku also serves as one of the media to communicate peace. Local song, as like gandong that expressed the value and spirit hidop orang basudara (peaceful live), pervading the hearts and cultural feelings of the people, thus helping to raise awareness of all the people of Maluku as brother and sister or as one family from the same ancentor, who must live bakubae or in reconciling. Therefore local music creation can be explained as a peace melody (bakubae) in Maluku. This study uses a philosophy-art analysis approach, which search the ethical, aesthetic and world-view values of the music-owner community. This study resulted in a knowledge that music also could contribute to building peace.

 

Key words: Falsafah, Orang Basudara, Melodi Baku bae.

 


Keywords


Key words: Falsafah, Orang Basudara, Melodi Baku bae.

Full Text:

PDF

References


Referensi

Bergh Arild, I’d like to teach the world to sing: Music and conflict transformation. University of Exeter, 2010.

Connell John O’ & Salwa El-Shawan Castelo Branco, Music and Conflict. Illionis: Board Trustees of the Univesity of Illionis, 2010.

Dieter Bartles, “Guarding the Invisible Mountain: Intervillages Allianse, Religious.”2011.

Dewi Tika Lestari, “Menguak Identitas Kemalukuan” dalam Jurnal Tangkoleh (STAKPN Ambon, 2011).

Finley, Susan, “Penelitian Berbasis Seni.” dalam Editor. Norman K Denzin, Yvona, S.Lincoln, terj. Dariyatno, The Sage Handbook of Qualitative Research, edisi 3, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011: 44-45.

Hasil wawancara awal dengan Bapak Bartje Istia, salah satu penata musik Bakubae di Maluku, Juli 2012.

Hasil Wawancara awal dengan Bapak Bartje Istia dan Ibrahim Hukom, Juli 2012.

J.A. Ajawaila, GPM dan Perspektif Sosial Budaya: Perspektif Antropologi, “makalah” (Ambon, 2009), 4.

Kaelan.“Metode Penelitian Kualitatif Interdisipliner bidang Sosial, Budaya, Filsafat, Seni, Agama dan Humaniora.”Yogyakarta: Paradigma, 2012.

Lederach, P.J, The Moral Imagination, The Art and Soul of Building Peace. New York: Oxford University Press, 2005.

M.G. Ohorella “Membangun Maluku”, dalam: Tifa Siwalima. Edisi 46.1999.

Ruhulessin, Etika Publik: Menggali dari tradisi Pela di Maluku, Salatiga: Satya Wacana University Press. 2005.

Philips Anderson, “Introduction”, dalam What is Music? (Pennsylvania State University Press, 1994).

Syncretism, and Ethics Identity Among Ambonese Christians and Moslems in the Mollucas (Cornell University Press, 1997).

WatlolyA. “Memperkuat Falsafah Hidop Orang Basudara”, dalam Karel A. Ralahalu, Belayar dalam Ombak, Berkarya bagi Negeri.Ambon: Ralahalu Institute, 2012.




DOI: http://dx.doi.org/10.26887/mapj.v2i1.684

DOI (PDF): http://dx.doi.org/10.26887/mapj.v2i1.684.g446

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Visitor Statistic