PERUBAHAN TEKS PASAMBAHAN DARI RITUAL ADAT KE PERTUNJUKAN TARI PENYAMBUTAN TAMU

Jonni Jonni

Abstract


ABSTRACT

 

Pasambahan is a negotiation through the art of speech in order to deliver an intention and objective in various traditional ceremonies of Minangkabau people. The art of arranging words in pasambahan is presented with the order of manners attended by the public  figures and  the  customary  figures;  and text  uttered  is  in  the form  of  simile or metaphor, pantun, prose, and synonim. Pasambahan is conducted by two groups namely alek (guest) and sipangka (host). Dialogue between alek and sipangka becomes an important part in every pasambahan. Pasambahan consists of several styles of negotiation theme according to the problem negotiated. Pasambahan undergoes expansion in the context of presentation, performer, and text delivered namely it doesn’t follow the main principles of pasambahan anymore such as pasambahan in the performance of Pasambahan dance. Pasambahan for performance is done one-way without dia- logue/negotiation; it doesn’t follow the structure, customary context, and rule of pasambahan anymore. This article aims at discussing the changes of pasambahan used for the performance in Pasambahan dance or for welcoming guests. Research results show that the change of text and the way of presenting pasambahan in dance performance undergo significant changes that tend to result on superficiality.

 

Keywords: pasambahan, change, Pasambahan dance

 

 

 

ABSTRAK

 

Pasambahan adalah beruding melalui seni tutur kata menyampaikan sesuatu maksud dan tujuan dalam berbagai upacara adat pada masyarakat Minangkabau. Seni merangkai kata dalam pasambahan disajikan dengan tatanan adab sopan santun, menghadirkan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan teks yang diucapkan dalam bentuk tamsilan atau metafora, pantun, prosa, dan sinonim. Pasambahan dilakukan oleh dua kelompok, yaitu alek (tamu) dan sipangka (tuan rumah). Dialogantara alek dan sipangkamenjadi bagian penting dalam setiap pasambahan. Pasambahan terdiri atas beberapa ragam tema perudingan sesuai dengan masalah yang diperundingkan. Pasambahan mengalami perluasan pada konteks penyajian, pelaku, dan teks yang disampaikan, yaitu tidak lagi mengikuti prinsip-prinsip utama pasambahan, seperti pasambahan untuk pertunjukan tari Pasambahan. Pasambahan untuk pertunjukan dilakukan satu arah tanpa dialog/ berunding, tidak lagi mengikuti: struktur, konteks adat, dan aturan mainnya. Artikel ini bertujuan membahas perubahan pasambahan yang digunakan untuk pertunjukan pada tari Pasambahan atau untuk menyambut tamu. Hasil


 

 

 

penelitian menunjukkan bahwa perubahan teks dan cara menyajikan pasambahan pada pertunjukan tari mengalami perubahan yang signifikan, cenderung menjadi pen- dangkalan.


Full Text:

PDF

References


DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa-Putra, H. Sh. (2012). Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Yogya- karta: Keppel.

Dt. Rajo Pengulu, I. H. (1984). Pegangan Penghulu, Bundo Kanduang, dan Pidato Alua Pasambahan Adat di

Minangkabau. Bandung: Remaja

Karya.

Navis,A.A. (1984). Alam Takambang Jadi

Guru. Jakarta: Grafiti Pres.

Nafis, A.(2004). Pidato Panghulu Mi- nangkabau. Padang: Pusat Peng- kajian Islam dan Minangkabau (PPIM) Sumatera Barat

Sjafruddin Tj.A, A. (2011). Minangkabau: dari Dinasti Iskandar Zulkarnaen Sampai Tuanku Imam Bonjol. Ja- karta: Gria Media Prima.

Sutrisno, M. (2005). “Trasformasi”, da-

lam Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto, eds. Teori-teori Kebu- dayaan. Yogyakarta: Kanisius.




DOI: http://dx.doi.org/10.26887/mapj.v2i1.892

DOI (PDF): http://dx.doi.org/10.26887/mapj.v2i1.892.g450

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Visitor Statistic