Eksistensi kue mangkuak dalam arus modernisasi pangan di Nagari Sianok

Muhammad Rafif Rifki Al Ghifary, Esa Rahmadani

Abstract


Kue mangkuak merupakan salah satu kuliner tradisional khas Nagari Sianok yang memiliki nilai budaya, simbolik, dan historis dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Keberadaan kue ini tidak hanya berkaitan dengan praktik konsumsi pangan, tetapi juga berfungsi sebagai penanda identitas budaya yang hadir dalam berbagai kegiatan adat dan ritual sosial. Namun demikian, perkembangan industri pangan modern yang ditandai dengan maraknya kue-kue modern berkemasan menarik, variasi rasa yang beragam, serta strategi pemasaran berbasis digital telah memengaruhi pola konsumsi masyarakat, khususnya generasi muda. Kondisi tersebut menimbulkan tantangan serius terhadap keberlanjutan kue mangkuak sebagai warisan kuliner tradisional. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi kue mangkuak di tengah arus modernisasi pangan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat keberlanjutannya di Nagari Sianok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive, meliputi pembuat kue mangkuak, pedagang, tokoh masyarakat, dan generasi muda. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, kategorisasi tematik, dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kue mangkuak masih bertahan terutama dalam konteks adat dan ritual budaya, namun menghadapi tantangan pada aspek regenerasi pembuat, inovasi produk, dan pemasaran. Keberlanjutan kue mangkuak ditopang oleh nilai budaya lokal, peran perempuan nagari, serta makna simbolik dalam proses produksinya.

Keywords


kue mangkuak; kuliner tradisional; identitas budaya; modernisasi pangan; Nagari Sianok

Full Text:

PDF

References


Appadurai, A. (1996). Modernity at large: Cultural dimensions of globalization. University of Minnesota Press.

Bendix, R. (1989). Tourism and cultural displays: Inventing traditions for whom? Journal of American Folklore, 102(404), 131–146. https://doi.org/10.2307/540001

Bessière, J. (2013). Heritage and gastronomy: The productions of French culinary heritage. Food, Culture & Society, 16(3), 443–458. https://doi.org/10.2752/175174413X13673466711837

Counihan, C. (1999). The anthropology of food and body: Gender, meaning, and power. Routledge.

Counihan, C., & Van Esterik, P. (Eds.). (2013). Food and culture: A reader (3rd ed.). Routledge.

Duruz, J. (2010). Eating at the borders: Culinary journeys. Journal of Intercultural Studies, 31(1), 23–38. https://doi.org/10.1080/07256860903477655

Giard, L. (1998). Doing-cooking. In M. de Certeau et al., The practice of everyday life (Vol. 2). University of California Press.

Hobsbawm, E., & Ranger, T. (1983). The invention of tradition. Cambridge University Press.

Long, L. M. (2015). Culinary tourism. In The Oxford handbook of food history. Oxford University Press.

Mintz, S. W. (1996). Tasting food, tasting freedom: Excursions into eating, culture, and the past. Beacon Press.

Mintz, S. W., & Du Bois, C. M. (2002). The anthropology of food and eating. Annual Review of Anthropology, 31, 99–119. https://doi.org/10.1146/annurev.anthro.31.040402.085246

Nugraha, M. C. (2020). Gurih manis yang menyatu dalam kue mangkuak santan Sianok. Jelajah Sumbar.

Pemerintah Nagari Sianok. (2022). Laporan pengembangan wisata kuliner Tahun 2021–2022. Kantor Nagari Sianok.

Rahman, F. (2016). Rijsttafel: Budaya kuliner di Indonesia masa kolonial 1870–1942. Gramedia Pustaka Utama.

Rahman, F., & Syahputra, I. (2019). Transformasi kuliner Minangkabau: Dari tradisional ke modern di Nagari Sianok. Jurnal Antropologi Budaya, 12(1), 78–95.

Radio Republik Indonesia. (2024, June 3). Kue mangkuak santan Sianok: Lezatnya perpaduan gurih dan manis.

Sims, R. (2009). Food, place and authenticity. Journal of Sustainable Tourism, 17(3), 321–336. https://doi.org/10.1080/09669580802359293

Sutton, D. (2001). Remembrance of repasts: An anthropology of food and memory. Berg.

UNESCO. (2003). Convention for the safeguarding of the intangible cultural heritage. UNESCO.

Warde, A. (1997). Consumption, food and taste. Sage Publications.

Wijaya, A., & Yulika, F. (2021). Kuliner tradisional sebagai identitas budaya Minangkabau. Jurnal Seni dan Budaya Melayu, 5(2), 45–60.

Yunus, R. (2018). Pelestarian warisan budaya takbenda berbasis komunitas. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 20(1), 89–102.




DOI: http://dx.doi.org/10.26887/bcdk.v9i1.6191



Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni 

E-ISSN: 2807-3622, P-ISSN: 2355-5149 | DOI: 10.26887/bcdk.
Website: http://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/Bercadik/index
Email: bercadik@isi-padangpanjang.ac.id | jurnal.isipp@gmail.com
Editor in Chief: Prof. Dr. Andar Indra Sastra, M.Hum 
Publisher: LPPM ISI Padangpanjang
Jalan Bahder Johan Padangpanjang 27128
Phone: (0752) 82077, Fax: (0752) 82803

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.